Diakhir tahun
2022 silam, kami anggota Alumni Sastra 86 Universitas Hasanuddin
melaksanakan program acara jalan jalan ke Yogyakarta dengan tajuk “Jokka Jokka
Jogja”. Jokka jokka adalah bahasa Bugis artinya ‘Jalan Jalan’. Program jalan jalan ini sudah direncanakan
sejak setahun sebelumnya sehingga ketika tiba waktunya, semuanya berjalan
lancar. Supaya para peserta yang semua sudah lolita (lolos 50 tahun 😊 ) dapat menikmati perjalanan dengan santai
maka diputuskan untuk menggunakan Kapal Dharma Ferry V, armada kapal laut yang
dikelola swasta yaitu PT. Dharma Lautan Utama (DLU). Kapal penumpang yang
dimilikinya masih cukup baru dan masih ramai
video reels dan shortnya berseliweran di media sosial dan
group Whatsapp.
Jumat malam, 9 Desember 2022, jam 23.00
kamipun berkumpul di pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, yaitu Pelabuhan laut
yang tersibuk di Indonesia bagian timur. Informasi yang didapat bahwa kapal
Dharma Ferry V dari Balikpapan akan berlabuh di Makassar sekitar jam 11 itu.
Namun ternyata kapal belum juga berlabuh sampai jam 00 dinihari. Terpaksa kami
tetap diruang tunggu, ada yang duduk dan adapula yang berbaring dan tidur di
kursi dan sofa. Kebetulan malam itu tidak banyak penumpang, banyak kursi kosong.
Terlelap di ruang tunggu karena kelelahan
menunggu, sampai akhirnya azan shalat subuh terdengar dari Mushallah kecil
disudut gedung pelabuhan. Antri wudhu dan kemudian antri shalat berjamaah, dan
kami pun bersiap berangkat. Semua barang bawaan, koper, tas jinjing, dan
berbagai macam barang bawaan lainnya dipersiapkan. Tepat pukul 7 pagi baru kami
naik kapal.
Kapal Dharma Ferry V ini menyediakan beberapa
ruang Klas I, Klas II, Klas III, Klas Ekonomi dan Klas VIP. Kami memilih Klas I. Klas I terdiri dari 4
tempat tidur, kamar mandi didalam, dan pemandangan laut langsung menghadap ke
bagian depan kapal. Suasana perjalanan tenang, laut tenang, dan tidak ada
terasa oleng oleng seperti kalau kita naik kapal besar seperti kapal Pelni.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang
lebih 31 jam, kami tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sekitar jam 2
siang. Kami sudah ditunggu oleh bus yang telah di-booking sebelumnya,
lanjut perjalanan ke Solo (Surakarta) melalui Tol Krian, dan kami singgah di Forest
Village, satu Rest Area yang dilengkapi dengan warung makan, toilet
dan mushallah. Tiba di Solo saat magrib, dan kami singgah di Masjid Raya Sheikh
Zayed. Masjid ini awalnya dibangun pada tahun 2021, dan merupakan replika dari
Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid ini merupakan hibah
dari Pemerintah Uni Emirat Arab kepada Pemerintah Indonesia. Sayangnya ketika
kami tiba, masjidnya belum diresmikan dan belum dibuka untuk umum. Para
pengunjung terpaksa hanya bisa berkeliling sekitar masjid dan berfoto. Dalam
perjalanan menuju hotel, kami singgah makan malam di Rumah Makan Taman Sari,
Colomadu Solo.
Selama di Solo kami menginap di Hotel Respati
Kasih. Hotelnya sederhana dan bersih dan bersuasana rumah zaman dulu. Vibes-nya
klasik dan vintage. Kalau mau
informasi lebih lengkap tentang hotel ini silakan digoogling.
Hari pertama di Yogyakarta kami berkunjung Taman
Sari. Taman Sari adalah tempat permandian raja raja Kesultanan Yogyakarta
selama ratusan tahun. Saya pribadi sudah 2 atau 3 kali ke destinasi wisata ini
dengan rombongan yang berbeda beda. Dari hotel kami naik bus wisata yang telah
di booking sebelumnya, menuju ke Taman Sari, namun ternyata busnya tidak
lansung ke Taman Sari. Bus hanya sampai disuatu halte dan selanjutnya kami
menggunakan shuttle bus Joglosemar untuk menuju ke Taman Sari. Di Taman
Sari, ada Pemandu Wisata (guide) khusus yang menjelaskan sejarah Taman
Sari di dekat pintu masuk. Ada beberapa guide yang bisa menemani, tapi bisa
juga jalan jalan saja seputar Taman Sari tanpa perlu pemandu. Berkunjung ke
tempat bersejarah ini kita bisa mengetahui sejarah Yogyakarta secara umum, bisa
menyusuri lorong lorong bawah tanah, bisa membayangkan para keluarga raja mandi
di kolam yang luas itu ratusan tahun lalu. Tentang Taman Sari ini, saya pernah
tulis di komunitas Bengkel Narasi di : https://bengkelnarasi.com/2022/01/06/taman-sari-pemandian-keluarga-sultan-yogyakarta/
Selanjutnya dari Taman Sari kami menikmati
makan siang di resto Soto Al Barokah di Tegal Rejo Yogya. Resto ini banyak
dikunjungi oleh para pejabat dan artis serta selebritas tanah air. Beberapa
foto artis dan pesohor terpajang di dinding resto.
HeHa Sky View menjadi tujuan kami selanjutnya.
Destinasi wisata ini berada diketinggian berjarak sekitar 40 menit dari pusat
kota Yogyakarta. Perjalanan ke HeHa Sky View agak tersendat karena ada beberapa
kali terjadi kemacetan. Tempatnya ramai dengan anak muda karena memang sangat
banyak spot foto foto selfie yang istilah anak zaman sekarang sangat ‘instagramable’.
Banyak juga resto dan food stall dengan harga yang sangat terjangkau bagi
pengunjung. Dari tempat ini pengujung bisa melihat kota Yogyakarta dari
ketinggian, apalagi kalau malam hari, kelihatan lampu lampu kota yang indah. Dari
HeHa Sky view kembali ke kota Yogyakarta dan singgah di Malioboro berbelanja
dan menikmati berbagai food street dekat Malioboro.
Hari ke-3 Selasa 13 Desember 2022 kami menuju
ke Lava Tour, mengunjungi bekas lava letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu
yang menelan cukup banyak korban jiwa dan harta benda. Kami menggunakan mobil
jeep dan dari atas Jeep, kami saksikan betapa dahsyatnya bekas letusan gunung.
Sebagian tanah bekas lava, masih menghitam, tapi sebagian lainnya sudah mulai
ditumbuhi rumput dan tanaman. Kami singgah di bekas rumah korban timbunan lava
yang sudah hancur namun dijadikan Museum. Museum korban Gunung Merapi ini juga
telah saya ulas di https://bengkelnarasi.com/2022/12/19/rumahku-memoriku-di-lereng-merapi/ HeHa Sky View
![]() |
Rumah Korban Gn. Merapi yang dijadikan Museum |
Masih dengan Jeep yang sama, selanjutnya bertualang mengeksplore Kali Kuning. Di lokasi ini, ada ratusan Jeep warna warni dan kami off road di kali berpasir. Menyenangkan sekaligus menegangkan, karena melewati pasir, air sungai, rumput dengan laju yang cukup kencang sehingga harus berpegangan erat agar tidak sampai terlempar dari mobil jeep terbuka. Pengelola wisata Lava Tour dan Petualangan Kali Kuning ini sangat profesional. Keamanan atau safety sangat diutamakan, sehingg peserta tour merasa tenang dan dapat menikmati petualang.
![]() |
Off Road di Kali Kuning |
Tujuan wisata populer Candi Prambanan menjadi
tujuan kami selanjutnya. Sebagian rekan kami, sudah pernah juga berkunjung ke
Prambanan, namun sebagian lainnya belum pernah. Kami yang sudah pernah kesini,
hanya berfoto foto di luar, sedangkan yang pertama kali berkunjung, sempat
masuk ke kompleks candi yang termasuk candi Hindu terbesar di Indonesia ini.
Menjelang sore peserta ‘Jokka Jokka Jogja’
mengunjungi Mal Ambarukmo Plaza, dimana kami menikmati berbagai kuliner Yogya
dan belanja. Salah seorang teman alumni Sastra 86 yang bermukim di Malang juga
ikut bergabung dengan kami, menjalin silaturrahmi yang lebih 30 tahun terputus.
Hari ke-4 di Yogyakarta, candi terbesar di
dunia, Borobudur menjadi tujuan kami. Ternyata pengelola Candi Borobudur tidak
lagi membolehkan pengunjung untuk naik ke candi. Pengunjung hanya bisa jalan
jalan sekeliling candi. Ada juga info yang mengatakan untuk naik ke candi harus
harus membayar dengan jumlah nominal tertentu yang relatif mahal. Padahal
beberapa tahun sebelumnya saya sempat naik sampai ke stupa puncak Borobudur.
Sebagian teman seperjalanan yang baru pertama ke Borobudur kecewa dengan
pelarangan itu. Info tentang Borobudur juga pernah saya narasikan dan dapat
dibaca pula di https://bengkelnarasi.com/2022/01/13/pesona-borobudur/
Perjalanan pulang dari Candi Borobudur kami
singgah di salah satu tujuan wisata kekinian yaitu Svargabumi. Tempat wisata
ini sebenarnya hanya area persawahan, namun dibagian tengahnya dan pinggirannya
dibuatkan spot spot foto yang menarik sehingga pengunjung dapat ber-selfie
atau berfoto rombongan dari berbagai sudut dengan berbagai macam property
foto. Pada bagian luar lokasi wisata ini, tersedia banyak mobil Volkswagen atau
dikenal dengan nama populer ‘VW Kodok’. Ada yang modelnya seperti mobil dinas
para camat di era Orde Baru tahun 1980an. Lokasi Svargabumi ini juga sudah
pernah saya bahas di https://bengkelnarasi.com/2022/12/22/svargabumi-wisata-ditengah-sawah/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar