Jokka Jokka Jogja


Diakhir tahun  2022 silam, kami anggota Alumni Sastra 86 Universitas Hasanuddin melaksanakan program acara jalan jalan ke Yogyakarta dengan tajuk “Jokka Jokka Jogja”. Jokka jokka adalah bahasa Bugis artinya ‘Jalan Jalan’.  Program jalan jalan ini sudah direncanakan sejak setahun sebelumnya sehingga ketika tiba waktunya, semuanya berjalan lancar. Supaya para peserta yang semua sudah lolita (lolos 50 tahun  😊  ) dapat menikmati perjalanan dengan santai maka diputuskan untuk menggunakan Kapal Dharma Ferry V, armada kapal laut yang dikelola swasta yaitu PT. Dharma Lautan Utama (DLU). Kapal penumpang yang dimilikinya masih cukup baru dan masih ramai  video reels dan shortnya berseliweran di media sosial dan group Whatsapp.

Jumat malam, 9 Desember 2022, jam 23.00 kamipun berkumpul di pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, yaitu Pelabuhan laut yang tersibuk di Indonesia bagian timur. Informasi yang didapat bahwa kapal Dharma Ferry V dari Balikpapan akan berlabuh di Makassar sekitar jam 11 itu. Namun ternyata kapal belum juga berlabuh sampai jam 00 dinihari. Terpaksa kami tetap diruang tunggu, ada yang duduk dan adapula yang berbaring dan tidur di kursi dan sofa. Kebetulan malam itu tidak banyak penumpang, banyak kursi kosong.

Di Pelabuhan Makassar

Terlelap di ruang tunggu karena kelelahan menunggu, sampai akhirnya azan shalat subuh terdengar dari Mushallah kecil disudut gedung pelabuhan. Antri wudhu dan kemudian antri shalat berjamaah, dan kami pun bersiap berangkat. Semua barang bawaan, koper, tas jinjing, dan berbagai macam barang bawaan lainnya dipersiapkan. Tepat pukul 7 pagi baru kami naik kapal.

Kapal Dharma Ferry V ini menyediakan beberapa ruang Klas I, Klas II, Klas III, Klas Ekonomi dan Klas VIP.  Kami memilih Klas I. Klas I terdiri dari 4 tempat tidur, kamar mandi didalam, dan pemandangan laut langsung menghadap ke bagian depan kapal. Suasana perjalanan tenang, laut tenang, dan tidak ada terasa oleng oleng seperti kalau kita naik kapal besar seperti kapal Pelni.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 31 jam, kami tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sekitar jam 2 siang. Kami sudah ditunggu oleh bus yang telah di-booking sebelumnya, lanjut perjalanan ke Solo (Surakarta) melalui Tol Krian, dan kami singgah di Forest Village, satu Rest Area yang dilengkapi dengan warung makan, toilet dan mushallah. Tiba di Solo saat magrib, dan kami singgah di Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid ini awalnya dibangun pada tahun 2021, dan merupakan replika dari Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid ini merupakan hibah dari Pemerintah Uni Emirat Arab kepada Pemerintah Indonesia. Sayangnya ketika kami tiba, masjidnya belum diresmikan dan belum dibuka untuk umum. Para pengunjung terpaksa hanya bisa berkeliling sekitar masjid dan berfoto. Dalam perjalanan menuju hotel, kami singgah makan malam di Rumah Makan Taman Sari, Colomadu Solo.

Masjid Sheikh Zayed Solo

Selama di Solo kami menginap di Hotel Respati Kasih. Hotelnya sederhana dan bersih dan bersuasana rumah zaman dulu. Vibes-nya klasik dan vintage.  Kalau mau informasi lebih lengkap tentang hotel ini silakan digoogling.

Hari pertama di Yogyakarta kami berkunjung Taman Sari. Taman Sari adalah tempat permandian raja raja Kesultanan Yogyakarta selama ratusan tahun. Saya pribadi sudah 2 atau 3 kali ke destinasi wisata ini dengan rombongan yang berbeda beda. Dari hotel kami naik bus wisata yang telah di booking sebelumnya, menuju ke Taman Sari, namun ternyata busnya tidak lansung ke Taman Sari. Bus hanya sampai disuatu halte dan selanjutnya kami menggunakan shuttle bus Joglosemar untuk menuju ke Taman Sari. Di Taman Sari, ada Pemandu Wisata (guide) khusus yang menjelaskan sejarah Taman Sari di dekat pintu masuk. Ada beberapa guide yang bisa menemani, tapi bisa juga jalan jalan saja seputar Taman Sari tanpa perlu pemandu. Berkunjung ke tempat bersejarah ini kita bisa mengetahui sejarah Yogyakarta secara umum, bisa menyusuri lorong lorong bawah tanah, bisa membayangkan para keluarga raja mandi di kolam yang luas itu ratusan tahun lalu. Tentang Taman Sari ini, saya pernah tulis di komunitas Bengkel Narasi di : https://bengkelnarasi.com/2022/01/06/taman-sari-pemandian-keluarga-sultan-yogyakarta/  

Lorong bawah tanah TamanSari

Selanjutnya dari Taman Sari kami menikmati makan siang di resto Soto Al Barokah di Tegal Rejo Yogya. Resto ini banyak dikunjungi oleh para pejabat dan artis serta selebritas tanah air. Beberapa foto artis dan pesohor terpajang di dinding resto.

HeHa Sky View menjadi tujuan kami selanjutnya. Destinasi wisata ini berada diketinggian berjarak sekitar 40 menit dari pusat kota Yogyakarta. Perjalanan ke HeHa Sky View agak tersendat karena ada beberapa kali terjadi kemacetan. Tempatnya ramai dengan anak muda karena memang sangat banyak spot foto foto selfie yang istilah anak zaman sekarang sangat ‘instagramable’. Banyak juga resto dan food stall dengan harga yang sangat terjangkau bagi pengunjung. Dari tempat ini pengujung bisa melihat kota Yogyakarta dari ketinggian, apalagi kalau malam hari, kelihatan lampu lampu kota yang indah. Dari HeHa Sky view kembali ke kota Yogyakarta dan singgah di Malioboro berbelanja dan menikmati berbagai food street dekat Malioboro.

HeHa Sky View
Hari ke-3 Selasa 13 Desember 2022 kami menuju ke Lava Tour, mengunjungi bekas lava letusan Gunung Merapi beberapa tahun lalu yang menelan cukup banyak korban jiwa dan harta benda. Kami menggunakan mobil jeep dan dari atas Jeep, kami saksikan betapa dahsyatnya bekas letusan gunung. Sebagian tanah bekas lava, masih menghitam, tapi sebagian lainnya sudah mulai ditumbuhi rumput dan tanaman. Kami singgah di bekas rumah korban timbunan lava yang sudah hancur namun dijadikan Museum. Museum korban Gunung Merapi ini juga telah saya ulas  di  https://bengkelnarasi.com/2022/12/19/rumahku-memoriku-di-lereng-merapi/  

Rumah Korban Gn. Merapi yang dijadikan Museum

Masih dengan Jeep yang sama, selanjutnya bertualang mengeksplore Kali Kuning. Di lokasi ini, ada ratusan Jeep warna warni dan kami off road di kali berpasir. Menyenangkan sekaligus menegangkan, karena melewati pasir, air sungai, rumput dengan laju yang cukup kencang sehingga harus berpegangan erat agar tidak sampai terlempar dari mobil jeep terbuka. Pengelola wisata Lava Tour dan Petualangan Kali Kuning ini sangat profesional. Keamanan atau safety sangat diutamakan, sehingg peserta tour merasa tenang dan dapat menikmati petualang.

Off Road di Kali Kuning

Tujuan wisata populer Candi Prambanan menjadi tujuan kami selanjutnya. Sebagian rekan kami, sudah pernah juga berkunjung ke Prambanan, namun sebagian lainnya belum pernah. Kami yang sudah pernah kesini, hanya berfoto foto di luar, sedangkan yang pertama kali berkunjung, sempat masuk ke kompleks candi yang termasuk candi Hindu terbesar di Indonesia ini.

Menjelang sore peserta ‘Jokka Jokka Jogja’ mengunjungi Mal Ambarukmo Plaza, dimana kami menikmati berbagai kuliner Yogya dan belanja. Salah seorang teman alumni Sastra 86 yang bermukim di Malang juga ikut bergabung dengan kami, menjalin silaturrahmi yang lebih 30 tahun terputus.

Mall Ambarukmo Yogyakarta

Hari ke-4 di Yogyakarta, candi terbesar di dunia, Borobudur menjadi tujuan kami. Ternyata pengelola Candi Borobudur tidak lagi membolehkan pengunjung untuk naik ke candi. Pengunjung hanya bisa jalan jalan sekeliling candi. Ada juga info yang mengatakan untuk naik ke candi harus harus membayar dengan jumlah nominal tertentu yang relatif mahal. Padahal beberapa tahun sebelumnya saya sempat naik sampai ke stupa puncak Borobudur. Sebagian teman seperjalanan yang baru pertama ke Borobudur kecewa dengan pelarangan itu. Info tentang Borobudur juga pernah saya narasikan dan dapat dibaca pula di https://bengkelnarasi.com/2022/01/13/pesona-borobudur/    

Perjalanan pulang dari Candi Borobudur kami singgah di salah satu tujuan wisata kekinian yaitu Svargabumi. Tempat wisata ini sebenarnya hanya area persawahan, namun dibagian tengahnya dan pinggirannya dibuatkan spot spot foto yang menarik sehingga pengunjung dapat ber-selfie atau berfoto rombongan dari berbagai sudut dengan berbagai macam property foto. Pada bagian luar lokasi wisata ini, tersedia banyak mobil Volkswagen atau dikenal dengan nama populer ‘VW Kodok’. Ada yang modelnya seperti mobil dinas para camat di era Orde Baru tahun 1980an. Lokasi Svargabumi ini juga sudah pernah saya bahas di https://bengkelnarasi.com/2022/12/22/svargabumi-wisata-ditengah-sawah/  


Keesokan harinya adalah hari terakhir di Yogya dan selanjutnya kami melakukan perjalanan
  bus menuju Surabaya untuk selanjutnya naik kapal Ferry Darma Kencana VII di pelabuhan Tanjung Perak kembali ke Makassar. Perjalanan selama sepekan yang penuh kenangan indah tak terlupakan bersama sahabat sahabat Sastra 86 Universitas Hasanuddin Makassar.

 

 



Buku Cerdas Sulawesi Selatan, Bunga Rampai Pengetahuan tentang Sulawesi Selatan



Judul:                        Buku Cerdas Sulawesi Selatan

Penulis:                     Shaff Muhtamar

Penerbit:                    Yayasan Karaeng Pattingngalloang, Gowa

Tahun Terbit:              2005

Jumlah Halaman:        167

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Isi Resensi:


Buku ini membahas banyak informasi mengenai Sulawesi Selatan. Kumpulan informasi berbagai aspek Sulawesi Selatan. Buku yang ditulis oleh Shaff Muhtamar setebal 167 halaman ini diterbitkan oleh Yayasan Karaeng Pattingalloang bekerjasama dengan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, dimaksudkan untuk membantu para pemustaka mendapatkan informasi tentang Sulawesi Selatan.

Informasi yang dibahas dalam buku ini adalah Informasi Umum tentang Sulawesi Selatan, mulai dari sejarahnya, visi dan misi Provinsi, makna lambang (logo), nama nama Gubernur, nama nama Walikota Makassar, letak geografis, luas wilayah, jumlah penduduk, flora dan fauna, gunung, sungai, agama, suku bangsa, cuaca, bahasa dan lain lain.

Profil kota Makassar juga dibahas sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, tentang luas wilayahnya, jumlah kecamatan, kelurahan, RT, RW, jumlah Penduduk, makna lambang kota Makassar. Demikian juga semua kabupaten / kota yang ada di Sulawesi Selatan. Setiap daerah Kabupaten Kota dijelaskan secara umum tentang letak geografis, pertanian, pariwisata, sektor industri, perhubungan.

Potensi daerah kabupaten kota se-Sulawesi Selatan juga dijelaskan secara detail.Misalnya potensi pertanian, berapa hektar sawah, berapa ton produksinya dan lain lain. Potensi pertambangan, perkebunan, kehutana, peternakan, perikanan, dan volume ekspor.

Kerajaan kerajaan yang pernah ada dan berdaulat di Sulawesi Selatan juga dibahas satu persatu, meskipun tidak semua kerajaan. hanya kerajaan besar saja yang dibahas, misalnya, kerajaan Gowa, Bone, Tallo, Soppeng, Wajo, Luwu, Bantaeng, Lita Mandar dan lain lain.

Kemudian ada pembahasan tentang kebudayaan tradisional Sulawesi Selatan, mulai dari mitos To manurung dibeberapa kabupaten, komunitas tradisional misalnya To Bettong di Barru, suku Bajo di Sibulue Bone, Bissu, Ammatoa, dan Tolotang. Ada juga tentang Nilai nilai tradisional Sulawesi Selatan, upacara adat perkawinan dari beberapa suku, upacara kematian dan pemakaman, upacara nelayn dan lain lain.

Tradisi Islam yang merupakan agama mayoritas penduduk Sulawesi Selatan, juga dijelaskan. Misalnya; barzanji, maulid, ziarah, mikraj, mappanre temme, malleppe, je'ne je'ne sappara, memulai mengaji dan Asyuro. Sejarah masjid masjid tua di Sulawesi Selatan juga tidak ketinggalan. Ada masjid Katangka, masjid Tosora, masjid Palopo, masjid Tolo. Sejarah Klenteng juga ada. Situs situs Arkeologi , peninggalan kerajaan, kerajinan tradisonal, tenunan tradisional, pakaian adat, tari tradisional teater rakyat, seni tulis dan seni musik, alat musik, senjata, permainan, nama nama perahu tradisional, bangunan dan rumah adat, serta peralatan mistis religius semua lengkap dibahas dalam buku ini. Aspek lainnya, adalah struktur sosial, pelanggaran adat, gelar adat, dan gelar raja.

Pariwisata Makassar juga dibahas tersendiri, mulai dari wisata baharinya, wisata niaga (mall dan toko toko lengkap dengan alamat masing masing), hotel, wisma, bandara, pelabuhan, makanan tradissional, kalender pariwisata, pariwisata kabupaten kota, monumen monumen yang ada di Sulawesi Selatan, dan museum. peristiwa bersejarah juga tidak ketinggalan dalam pembahasan buku ini. Tahun tahun bersejarah Sulawesi Selatan, NIT, Korban 40.000 Jiwa, Perjanjian Bungayya, Laskar 45, sampai tragedi April Berdarah, dan lain lain juga dibahas secara ringkas.

Terakhir ada biografi ringkas tokoh tokoh Sulawesi Selatan: Opu Daeng Risaju, Ranggong Daeng Romo, Sultan Hasanuddin, Emmy Saelan, La Maddukkelleng, Andi Mappanyukki, Pongtiku, Andi Depu. dan La Pawawoi. Para cerdik cendekia Sulawesi Selatan juga jelaskan: misalnya Karaeng Pattingalloang, Collie Pujie, dan Daeng Pamatte. Tambahan lainnya: kisah epic I La Galigo, Ulama Tasauf Syech Yusuf. Jenis Media Cetak, Daftar Perguruan Tinggi, Pesantren, Tempat Kursus, Perusahaan perusahaan dalam berbagai bidang produksi juga ada dibuku ini.

Buku ini cukup lengkap membahas tentang berbagai aspek Provinsi Sulawesi Selatan.

Kekurangan dari buku ini adalah, sebagian informasinya sudah usang. Terbit tahun 2005, tentu sudah banyak perubahan yang terjadi di Sulawesi Selatan, terutama data data statistik yang banyak dipakai dalam pembahasan bagian bagian awal buku. Buku perlu segera di revisi dan dicetak ulang. Contoh informasi yang sudah usang misalnya, Universitas 45 masih digunakan di buku ini, sekarang sudah tidak ada lagi, karena sudah berganti nomenklatur menjadi Univeristas BOSOWA. Kemudian pada daftar nama nama Gubernur hanya sampai pada Gubernur Amin Syam. Nama Walikota Makassar hanya sampai Arief Sirajuddin. Begitu pula nama nama perusahaan beserta alamatnya, mungkin perlu dicek kembali  agar informasinya tetap diperbarui (ter-update).

Buku ini adalah koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Jalan Lanto Dg. Pasewang, Makassar.

Takalar Kini dan Esok, Paradigma Baru Bupati Zainal

Buku : Takalar Kini & Esok, Paradigma Baru Bupati Zainal

Editor : Andi Wanua Tangke dan Usman Nukma

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat : Makassar

Tahun: 2001

Jumlah Halaman : 204

Ukuran : 20,5 cm

ISBN :

Buku ini diterbitkan pada masa pemerintahan Bupati Zainal Abidin di Kabupaten Takalar. Selain membahas berbagai aspek pembangunan daerah Takalar, juga sedikit diuraikan sejarah Takalar dan asal usul namanya, posisi geografis dan keadaan penduduknya.

Terbagi dalam 7 bagian dimana setiap bagian terdiri dari beberapa sub-bagian. Pada bagian kedua diuraikan secara ringkas bagaimana Takalar menuju Civil Society (Masyarakat Madani) dengan berbagai langkah langkah yang ditempuh untuk mewujudkannya.

Uraian tentang alam, budaya dan pariwisata Takalar selanjutnya di bagian ketiga. Berbagai obyek budaya dan pariwisata dikemukakan misalnya upacara Maudu Lompoa, pariwisata pantai Tope Jawa, Galesong dan juga kilas balik sejarah yang terjadi di Takalar. Potensi daerah Takalar misalnya hasil ternak, hasil pertanian, perikanan dan peternakan.

Hasil kerajinan anyaman serat lontara dan gerabah dari Takalar juga telah menembus pasa dunia dan diekspor ke Belanda, Amerika Serikat dan Australia. Hasil pertanian sayur sayuran juga. Berbagai keberhasilan selama pemerintahan Zainal Abidin diuraikan pada bagian kelima dan keenam.

Bagian ketujuh adalah kumpulan sumbangan tulisan para pakar, akademisi dan tokoh masyarakat tentang Takalar dan tentang kepeminpinan Bupati Zainal Abidin. Judul judul tulisan dari para tokoh adalah sebagai berikut:

·         Pola Penyaluran KUT, Perlu dicontoh (Prof. Dr. Halide, Pakar Ekonomi Pertanian)

·         Wajar Untuk Dikagumi (Prof. Dr. Radi A. Gany, Rektor Universitas Hasanuddin)

·         Jalin Kerjasama dengan Luarnegeri (Prof. Dr. A. Husni Tanra, Direktur PPS UNHAS)

·         Tingkatkan Kualitas Hasil Produk (Dr. Marwah Daud Ibrahim, Anggota DPR RI)

·         Takalar, Contoh dalam Pemberdayaan SDM (Prof.Dr. W.I.M. Polii, Pakar Ekonomi)

·         Takalar Punya Masa Depan (Dr. H. Kalmuddin Salle, S.h., M.H., Pakar Hukum)

·         Masyarakat Berdaya, Partisipasi Meningkat (Drs. A. Azis Sanapiah, M.P.A. Kepala DIKLAT LAN II)

·         Harus Bertemu Bottom Up dengan Top Down (Drs. H. Achmad Batinggi Ketua STIMIK Dipanegara Makassar)

·         Ibarat Mobil, Bupati Lari Sembilanpuluh (Drs. H. Ibrahim Rewa, Ketua DRD dan Partai Golkar Takalar)

·         Kebijakan Pemerintah Sudah Tepat (Kolonel H. Ibrahim Tulle, Mantan Bupati Takalar)

·         Berdosa Kalau Inkari Keberhasilan Bupati (H.M. Dg. Temba, Ketua IPKI dan Wakil Ketua DPRD Takalar)

·         Awalnya Muncul Suara Sumbang (Abdullah Yuseng, Anggota DPRD Takalar)

·         Peduli Pembangunan Agama (Idris Nassa, Ketua Umum BAZ Takalar)

·         Pemda Peduli Perkembangan PERS (H. Syamsu Nur, Ketua PWI Sulsel)

·         Harus Diakui Takalar Sudah Maju (Akamatsu Shiro, Ketua JICA)

·         Dibutuhkan Figur Sekelas Zainal (H. Akbar Serang, Ketua I Gapensi Takalar)

·         Budaya Panjat Pinang Rugika Takalar (Ismail Tato, S.Ag., Ketua Umum HIPERMATA)

·         Sukses Karena Didukung Visi dan Misi (Abdul Muis Malik, Aktifis LSM Takalar)

·         Tidak Harus Putra Daerah (Drs. H.M. Natsir Husain, Sekwilkab Takalar)

·         Terbuka Menerima Kritik (Ir. H. Dahyar Daraba, M.Si., Ketua Bappeda Takalar)

·         Ada Komitmen Kuat Berdayakan Masyarakat Lokal (Ir. H. Muhammad Tamzil, Kadis Transmigrasi dan PPH Takalar)

·         Melibatkan Kalangan Akademisi (Drs. Baso Lewa, Kabag Umum Setwilda Takalar)

·         Eksekutif Harus Lebih Kreatif (Drs. As’ad Limpo, Camat Pattallassang)

Buku ini adalah Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 





Kisah Hidup dan Perjuangan H. Andi Sose



Buku : 70 Tahun H. Andi Sose (Dari Revolusi ke Militer, Wiraswasta, Dunia Sosial sampai Era Reformasi)

Penyunting : Drs. H. Misbahuddin Achmad, MS

Penerbit : Universitas “45” Makassar

Tempat : Makassar

Tahun : 2000

Jumlah Halaman : xi + 208

Ukuran : 14,6 x 20 cm

ISBN : -

Buku ini diterbitkan dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-70 H. Andi Sose. Sebuah buku autobiografi yang mengisahkan perjalanan hidup beliau dari lahir sampai diterbitkannya buku ini. Selain kisah perjalanan hidup, dalam buku ini juga ada bagian yang membahas testimony dari beberapa tokoh pejabat negara dan tokoh masyarakat dan anak anak H. Andi Sose.

Diawali dengan Sambutan Ketua Umum Dewan Harian Nasional Angkatan 45, Ketua Legium Veteran RI, H. Achmad Tahir, Ketua Umum PEPABRI Pusat Jend. (Purn) Try Sutrisno dan Kata Pengantar dari Editor (Penyunting).

Buku ini dibagi menjadi 5 bagian, masing bagian terdiri dari beberapa Bab atau sub-bagian. Bagian pertama adalah Autobiografi H Andi Sose yang terdiri dari 6 bab, yang mengisahkan perjalanan hidup H. Andi Sose mulai dari masa kanak kanak di kampung Sossok, kecamatan Anggeraja, kabupaten Enrekang. Masa masa sekolah di kampung Sossok, lalu ke Makale, dan selanjutnya lanjut ke sekolah Jepang di Makassar.

Bab bab selanjutnya dikisahkan tentang masa masa revolusi, dimana banyak terjadi pergerakan di Sulawesi Selatan, pernah menjadi Komandan Harimau Indonesia, komferensi Paccekke,  dan Batalyon KGSS Massenrenpulu. Kisah hidup H. Andi Sose selama menjalani karier sebagai prajurit TNI dirangkum dalam bab ketiga. Hal penting yang dikisahkan pada bab ini misalnya bagaimana beliau menentang Kahar Muzakkar dan memimpin operasi terhadap Kahar Muzakkar.

Bab kelima dibahas tentang masa masa wiraswasta dimana H. Andi Sose mulai membangun bisnisnya, sampai menjadi konglomerat dengan jumlah perusahaan yang banyak. Pada bab selanjutnya adalah masa masa pengabdian sosial, dimana beliau memimpin Dewan Harian Angkatan 45, menjadi pemrakarsa pendirian KKSS dan lain lain. Dikisahkan pula tentang masa reformasi dimana beliau berusaha tetap netral dalam sikap politik, namun pada beberapa partai politik nama beliau hanya dijadikan penasehat, dan bukan pengurus, bahkan beliau menjadi penasehat di beberapa partai politik.

Pada bagian kedua sampai ke-5 adalah testimony atau kesaksian. Testimony ini diberi judul H. Andi Sose dimata para Pakar dan Ilmuwan (Prof. H.A. Zainal Abidin Farid, Prof. Ruslan Saleh, Prof. Burhamzah, Prof. Mattulada, Prof. Umar Shihab, Prof. Soetinah Soewondo). Selanjutnya H. Andi Sose dimata para pejabat negara dan tokoh masyarakat (H.Z.B. Palaguna), H. Amin Syam, H. Andi Oddang, KH. Sanusi Baco, dan H.M. Alem Bachrie. Dimata generasi muda Angkatan 45 (H. Muh. Rum, H. Syamsul Alam Bulu, H.M. Alwi Hamu, H.M. Aksa Mahmud, H.B. Amiruddin Maula, H. Misbahuddin Achmad, H. Malik B. Masri, dan H. Iskandar Zulkarnaen Latief). Kesaksian yang terakhir adalah H. Andi Sose dimata anak anak-nya. 3 orang anak kandung yang menuliskan  testimony untuk ayahandanya H. A. Sose.

Buku koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




 

Prof. Hj. Andi Rasdiayanah, Srikandi Pendidikan Dari Timur



Buku : Srikandi Pendidikan Dari Timur (Perjalanan Hidup, Visi dan Karir Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah)

Editor : Waspada, M.Sos.I., M.HI & Dr. Mohd. Sabri, AR.

Penerbit : Pustaka Al-Zikra berkerjasama dengan UIN Alauddin Makassar

Tempat : Yogyakarta

Tahun : 2017

Ukuran : 14,5 x 21 cm

Jumlah Halaman : xxxiv + 228

ISBN : 978-602-5555-01-5

Buku ini adalah buku yang mengisahkan perjalanan hidup dan karir Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah salah seorang akademisi dan tokoh pendidik dari Sulawesi Selatan. Beliau adalah Rektor perempuan pertama di Sulawesi Selatan yang memimpin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar yang menjabat dari tahun 1985-1993. IAIN Alauddin sekarang bernama Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Beliau juga pernah menjabat sebagai Dirjen Bimbingan Kelembagaan Agama (Binbaga), Departemen Agama RI dari tahun 1993 -1996.

Terbagi menjadi 4 bagian, diawali dengan pengantar dari penerbit, daftar isi, kata pengantar dan Prolog yang berisi biografi singkat Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah. Pada bagian ini dibahas pendidikan, keluarga, prestasi yang pernah diraih, pengabdiannya, pengalaman organisasinya, dan pandangan pandangan (visi)nya terhadap dunia pendidikan yang digelutinya.

Selanjutnya adalah tulisan/ ulasan atau testimoni  para tokoh ulama dan umara terhadap Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiayanah. Adapun tulisan yang tercantum pada bagian pertama ini adalah :

1.      Srikandi dari Selatan (Achmad Amiruddin)

2.      Gagasannya Tentang Agama Sangat Luas (K.H. Bakri Wahid)

3.      Refleksi Pemikiran Andi Rasdiyanah Tentang Huku Islam (Minhajuddin)

Pada bagian kedua diberi tajuk “Identifikasi Kepemimpinannya” yang memuat ulasan tulisan yaitu :

1.      Generasi Pejabat dari Tanah Bugis (Azhar Arsyad)

2.      Mengukir Prestasi Unik dan Langka (Ahmad M. Sewang)

3.      Pemimpin yang Cekatan (Marwan Sarijo)

4.      Sosok Perempuan yang tak Pernah “disoal” (Qadir Gassing)

5.      Kasih Ibu Sepanjang Masa (Hamka Haq)

6.      Kepemimpinannya Telah Teruji ( Abd. Rahim Amin)

7.      Pembuka Jalan Karir Hakim Wanita (Andi Syamsu Alam)

8.      Pemimpin dan Ibu Panutan (Rusli Wolman)

9.      Mahaguru dan Pemimpin Teladan (M. Ghalib M)

10.  Kepemimpinannya Fenomenal (Syuaib Mallombassi)

11.  Cendekia Muslim Nusantara (Nurnaningsih Nawawi)

12.  Mengadu Pena dengan Cangkul (M. Ashar Said Mahbub)

 

Pada bagian ketiga dengan judul “Dalam Persepsi Para Koleganya”. Ada ulasan testimoni pada bagian ini yaitu :

1.      Ibu Dunia dan Akhirat (Abd. Muin Salim)

2.      Andi Rasdiyanah Tokoh Pendidik (K.H. Jamaluddin Amin)

3.      Sosok Muslimah Multi Dimensi (Nasruddin Razak)

4.      Guru Besar, Guru Sejati (Muhammad Amad)

5.      Pengabdian “Dua Ras” (Danawir Ras Burhany)

6.      Mengkader Sarjana Kajian Ilmu Hadis (Mustafa Nuri)

7.      Rektor Wanita Pertama di Sulawesi Selatan (Paturungi Parawangsa)

8.      Pribadinya Paripurna (Bakri Asrif)

 

Pada bagian terakhir adalah tertimoni para mantan mahasiswanya yang diberi judul : Aprisiasi Mahasiswanya dengan tulisan sebagai berikut:

1.      Cendekiawan, Pemimpin dan Ibu Teladan (Nasir A. Baki)

2.      Andi Rasdiyanah, Bundaku Sejati (Salehuddin Yasin)

3.      Sosok Wanita yang Kreatif (Syamsuduha Saleh)

4.      Ibu Sejati yang Menyayangi Anak Anaknya (Ahmad Thib Raya)

5.      Refleksi Atas Andi Rasdiyanah (Andi Faisal Bakti)

6.      Tokoh Rasional dan Argumentatif (K.H. Zain Irwanto)

7.      Istri dan Pendidik yang bijak (Chaeruddin B.)

8.      Pembela Sunnar (Arifuddin Ahmad)

9.      Pembelajar dan Pengajar Sepanjang Hayat (Wahyuddin Halim)

Buku ini ditutup dengan uraian singkat data data para penulisnya yaitu : Ahmad M Sewang, Waspada Santing, Moh. Sabri AR., Muhammad Ashar, Muhammad Natsir Siola, dan Anwar Sadat.

Buku koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Jokka Jokka Jogja

Diakhir tahun   2022 silam, kami anggota Alumni Sastra 86 Universitas Hasanuddin melaksanakan program acara jalan jalan ke Yogyakarta deng...

Popular Posts